Senin, 13 Juli 2015

Fantastic Wonder

Ini fanfic non yaoi pertamaku...  Jadi kalo bahasanya alay maaf ya hahaha

Pair: Tetsuya x Reader
Gender: romance
rate: T

****

Aku menatap jendela dengan gusar,  sekitar sejam lagi akan diadakan konser L'Arc~en~ciel tapi temanku belum juga datang..  Dan sialnya tiketku ada padanya.

Shit.

Aku memandang kesal mencari sosok orang menyebalkan yang entah kenapa menjadi temanku ini. Sambil sesekali melirik ke jam tangan ku, memandang khawatir melihat detik detik yang terus melaju.

Oke aku akan membunuhnya setelah ini.

Handphone ku berdering marah ingin diangkat, menunjukkan deretan nomor yang sudah ku kenal.. Ahhh dia yang ku tunggu. Aku harap dia tidak memberikan kabar buruk padaku,  atau aku akan membunuhnya saat itu juga.

Alis ku berkerut mendengar kata katanya, kututup telepon seraya menghelai nafas kesal, ternyata dia menunggu di Gate. Menyebalkan sekali. Ku ambil tas ku dengan kasar dan berlari secepat cepatnya menuju Gate, tidak mau melewatkan satu detik pun dari konser mereka. 

Sambil terus berlari, aku melirik jam tangan ku dengan gusar,  15 menit lagi dan masih ada 500 meter lagi..  aku mempercepat lariku tak peduli beberapa orang yang tak sengaja ku tabrak ataupun memandang heran kearahku. Sampai akhirnya.. 

Tak sempat menghindar..

Badanku tertabrak oleh sesosok orang yang berlari sama cepatnya denganku,  salahkan aku wanita dan badanku lebih kecil darinya.

"Kau tak apa?" tanya nya sembari mengulurkan tangan aku kearahku. Aku mendongakkan kepala, sudah siap dengan berbagai makian dan sumpah serapah untuk nya.

Saat aku sudah siap untuk melemparkan makian dan sumpah serapah yang sudah kususun itu, menatap wajahnya,  wajah yang sangat tak asing dimataku,  butuh beberapa saat untukku mengetahui siapa yang sedang memberikan tangannya.

Seketika mataku melotot..  Tak percaya apa yang sedang terjadi, badan ku tak bisa bergerak saking kaget nya.

"Kau tak apa?" ulang nya yang seperti bingung melihatku yang tak bergerak se senti pun, buru buru aku mengangguk cepat dan menggenggam tangan yang sedari tadi berada di depanku,  menunduk minta maaf padanya.  Ia hanya tersenyum dan berlari begitu saja.

Setelah dia berlari aku baru ingat bahwa aku sedang dikejar waktu, segera aku berlari menuju Gate yang untungnya tidak jauh. semua sumpah serapah yang ingin ku teriakan di wajah temanku terlupakan begitu saja.

"Kenapa lama?"tanya temanku memandang bingung.

"Kau pasti tak akan percaya...  Aku bertabrakan dengan Tetsuya..  Tetsuya Ogawa"

***

Aku menyeruput capuchino ku perlahan lahan, menyesap rasa pahit dan creamy susu yang sudah dipadukan oleh sang barista.

Memandang nanar keluar jendela,  entah kenapa kejadian minggu lalu masih saja terngiang di otakku,  semakin lama aku mulai terbuai oleh imajinasi liar ku, tak sadar ada seseorang yang mendekat.

"Hai, bukan kah kau yang kemarin? "

Lamunanku buyar seketika, melihat sosok manusia yang kemarin aku tabrak,  dadaku bergemuruh cepat merasakan aliran darah naik ke pipiku.

Tetsuya Ogawa.

Aku hanya bisa mengangguk kaku, menatap idola ku berada di depan mataku, berbicara denganku pula.

"Bolehkah aku duduk bersamamu,  sepertinya disini tidak ada tempat kosong lagi" serunya sambil menggaruk kepalanya.

Segera ku comot tas beserta belanjaanku,  mata Tetsu menatap kearah brand yang terpampang di kantung yang ku pegang,  kemudian tersenyum.

"Aku juga suka brand itu" ucapnya tiba tiba membuatku terlonjak. Tentu saja aku tau brand kesukaan Tetsuya..Karna aku termasuk die Hard fans nya, namun aku mungkin tak akan membicarakannya, aku takut dia risih.

"A-anda Tetsuya Ogawa? " tanyaku takut takut, takut ia memilih pindah karna aku mengetahui identitasnya.

Matanya membulat sempurna. Seperti tak percaya apa yang aku ucapkan "Apakah penyamaran ku kurang? " tanya nya sambil terkekeh.

Ingin rasanya ku bilang 'aku fans beratmu makanya aku tau' namun kuurungkan niatku untuk kedua kalinya,  lebih memilih mencari aman.

Lama kami terbuai dalam diam sampai handphone Tetsuya berbunyi, ia mengangkat telepon dengan wajah gusar dan mematikan nya.

"Aku sudah dijemput, bisa kah besok kita bertemu lagi? " ucapnya sambil tersenyum sangat manis.

Dengan refleks aku mengangguk mengambil kesempatan yang sangat langka ini. Ia kembali tersenyum padaku dan 'mata nee' khas nya terdengar, aku rasa aku bermimpi.

Namun aku tersadar sesuatu yang sangat penting, dan menepuk jidatku pelan.

Janjianya dimana..

****

Dan disinilah aku sekarang,  bersandar pada salah satu dinding Coffee shop tempat kemarin aku bertemu dengan Tetsuya Ogawa,  idolaku.

Mengingat sebelum berangkat bagaimana aku menghancurkan lemari hanya untuk mencari setelan terbaik untuk bertemu dengan Tetsuya.

I hope its a big deal

Mataku menatap nanar kejalan, janjian tapi tidak menentukan waktu dan tempatnya, betapa bodohnya ia sekarang menunggu harapan yang tak pasti..

Kalau jodoh pasti bertemu...

Tak lama kemudian muncul sesosok orang yang masih tak percaya bahwa bisa bertemu, apalagi semacam... Kencan.. Ah benar ini seperti kencan...  Seketika wajahku memerah.

Ia tampak tampan dengan setelan casualnya, ia tetap terlihat tampan walau memakai baju seperti itu, wajar mungkin untuk seorang artis. 

Menatap ku sambil tersenyum manis, dan aku.. Berusaha untuk tidak teriak karenanya.

Berjalan di dalam mall membuatku canggung, apalagi berada di sisinya. Aku sadar banyak pandangan mata menatap kami ah tidak..  Menatap Tetsuya, siapa yang tak kenal dengannya?  Artis besar dan leader band ternama ini.

Setelah beberapa menit berjalan tanpa pembicaraan, ku memberanikan diri untuk memulai percakapan. Untungnya Semakin lama, aku sudah tak terlalu canggung lagi dengannya. 

Satu jam.. Dua jam.. Tiga jam.. Sudah tiga jam berjalan, dan aku masih memutar  dengan Tetsuya, kantong belanjaan sudah bertengger manis di tanganku maupun tangannya, semalaman aku susah membrowsing brand dan model baju favorite Tetsuya hanya untuk hari ini.
"Kau mau ke apartemen ku?" tiba-tiba Tetsuya menanyakan pertanyaan yang membuatku kelimpungan,  tak percaya dengan apa yang kudengar. 

Aku mengangguk saja, toh beberapa jam ini aku sudah naik pangkat dari sebatas fans menjadi teman Tetsuya.

****

Melaju dengan mobil hitam Tetsuya yang sudah di modifikasi rasanya seperti mimpi,  rasanya baru kemarin aku hanya membayangkan Tetsuya melalui poster dikamar ku, namun sekarang sudah berada di mobil, berdua denganya.

Dan disini aku sekarang,  apartemen super besar milik Tetsuya,  memandang kagum melihat semua furniture high class miliknya. 

Aku menatap dapur Tetsuya yang bersih, berfikir sepertinya menyenangkan membuat sesuatu untuknya, meminta izin sebelumnya aku berjalan kearah Tetsuya di kamarnya, dari sela sela pintu dapat kulihat ia sedang mengganti bajunya,  walau bedanya tidak berotot. Namun cukup seksi dimataku, seketika kupalingkan wajahku yang memerah dan berlari menuju westafel dapur, mencuci muka.

Selesai membasuh wajah, aku merasakan ada tangan yang memeluk pinggangku, merasakan hembusan nafas yang lembut di tengkuk ku. Menatap nanar kearah dua tangan yang memelukku,  aku tau ini tangan siapa, menahan wajahku yang memerah,  rasanya kali ini aku ingin teriak. 

"Kau, tau ini memang terdengar konyol..  Kita baru bertemu 3 hari.. Namun perasaanku mengatakan..  Aku menyukai... Maukah kau menjadi pacarku" ucapnya Tetsuya lirih tepat ditelingaku, aku kaget bukan main, tidak mungkin rasanya pertemuan 3 hari yang berujung hubungan,  iya aku sudah menyukai Tetsuya sejak 5 tahun lalu, namun hanya sebatas fans dan idola... Tak pernah terbayang sekalipun untuk menjadi kekasihnya. 

"Mau kah kau menjadi pacarku?" ucap Tetchan risih sekali,  aku merasa jantungku ingin melompat keluar,  tidak tau dengan wajahku yang sudah segera tomat, refleks aku menganggukkan kepalaku.

Aku dapat melihat pantulan wajahnya si cermin, ia tersenyum sangat manis dan memelukku lebih erat lagi, aku pun terbuai dengan pelukan hangatnya. 

"nee.. Bolehkah aku mencium?" ucap Tetsuya berbisik. 

Aku-

GUBRAK!!'

Aku mengang kepalaku yang berdenyut karna benturan manis dengan lantai kamar, menatap nanar lantai kamar yang berwarna coklat kayu.

Jadi itu hanya mimpi..

Mataku menatap nanar kearah poster yang berwujud Tetsuya, lalu aku terkekeh pelan..  Mana mungkin hal itu dapat terjadi.

Aku mengambil selimut ku yang terjatuh dan melihat jam, baru sekitar jam 5 pagi.. Masih ada waktu untuk tidur, batinku sambil menyamankan posisi ku.

Oyasumi..