"Aku tidak pernah mau mengekangmu Hyde.."
Kata kata Tetsu masih terngiang di telingaku, jujur aku merasa bersalah mendengar ucapan itu keluar dari mulut seorang Tetsu, tapi.. aku merasa sedikit lelah dan bosan.. aku hanya ingin mengembangkan sayapku sedikit lagi.. tapi ternyata.. semakin aku melebarkan sayapku.. orang yang kusayangi semakin tertusuk.
"Hyde..?"
Aku menoleh pelan, terlihat ken yang menatapku dengan mata sipitnya, dari matanya aku bisa melihat rasa khawatir yang cukup besar, aku tau apa yang dipikirkan, diam diam aku juga merasakan ke khawatiran yang sama.
"Aku rasa... Tetsu sudah mulai menyerah.. akhir akhir ini dia banyak diam dan tak mengutarakan pendapatnya sama sekali" ucap Ken dengan nada yang sulit diartikan.
Aku menatap Ken dalam, kemudian melihat kearah Yukkie yang menatapku dengan tatapan yang sama dengan Ken, sangat sulit diartikan.
"Tetsu juga tidak banyak berpendapat tentang solomu kan Hyde? berbeda seperti dulu, ia akan memarahimu jika kau terlalu mementingkan solomu, namun.. sekarang ia terlihat tak peduli" ucap Yukkie menatapku dalam.
Aku tersentak, ucapan Yukkie memang benar, aku masih ingat beberapa tahun lalu, Tetsu memarahiku habis habisan karna mencium model wanita dalam salah satu pvku, aku ingat dia menceramahiku sangat lama sampai sampai aku kesal dan memarahinya kembali... dan pada akhirnya kita tertawa bersama... jujur.. aku sangat merindukan masa masa itu.
"Apakah ini akhir dari L'Arc~en~ciel...?"
***
Mataku memandang lurus pada pintu ber-cat coklat yang ada dihadapanku, percakapanku kemarin dengan Ken dan Yukkie membuatku merasa tak nyaman, entah kenapa aku mendadak teringat saat aku mengutarakan perasanku pada Tetsu, saat itu aku terlalu lelah dan kesal hingga aku mengatakan sesuatu yang cukup menyakitkan pada Tetsu, aku bisa melihat kilatan sedih di mata Tetsu.
"Kita berusaha sedikit lagi ya haido..." ucap Tetsu bergetar.
Ya.. aku merasa aku sangat kejam, aku sendiri tidak mengerti mengapa dengan mudahnya aku meminta keluar dari L'Arc~en~ciel. Itu sama saja aku ingin menghilang dari sisinya, padahal aku melihat sendiri seberapa keras perjuanganya untung Laruku, seberapa banyak air mata yang keluar dari matanya, amarah yang hanya dia pendam, padahal aku mengetahui semua itu... tapi kenapa? Kenapa aku tak bisa bersabar sedikit lagi..?
Aku memutuskan untuk mengetuk pintu Tetsu perlahan, namun tidak ada jawaban.
Tok tok tok..
Saat sedikit ku kencangkan ketukan itu, tetap saja tidak ada respone, sedikit khawatir aku mencoba menghubungi nomor Tetsu.
"Nomor yang anda tuju sedang tidak akif atau berada diluar jangkauan cobalah..."
Aku mematikan sambungan telepon itu dengan gusar dan mencoba meneleponya kembali, perasaanku semakin tak enak saat kembali suara sang operator yang menyambut telingaku.
Dengan kesal aku memutuskan sambungan teleponku dan mencoba menelepon Ayana, aku harap Tetsu sekarang bersamanya.
"Moshi moshi"
"Ayana san? Apakah Tetsu sedang berada bersamamu?" Ucapku tidak sabar.
"Aa.. Haido san, aku sedang diluar negri, kemarin Tetchan menghubungiku, dia mengatakam ingin mencari sesuatu.." ucap Ayana dari sebrang telepon.
Aku terdiam sesaat, entah kenapa perasaanku semakin tak enak mendegar pernyataan Ayana, setelah berterima kasih aku menghubungi Ken dan Yukkie.
Aku, Ken dan Yukkie saling menatap tak nyaman, tidak biasanya Tetsu tidak menghubungi kita jika ia ingin pergi, terlebih lagi hingga tak dapat di hubungi.
"Ayana san bilang bahwa Tetsu ingin mencari sesuatu.." ucapku aga sedikit serak, jujur aku sangat panik.
Ken dan Yukkie saling bertatapan, lalu memandangku, aku dapat merasakan tatapan mereka yang sangat khawatir, sama sepertiku.
"Snowdrop"
Aku dan Ken menoleh pada Yukkie, menatap Yukkie cukup dalam, Yukkie seakan tau apa yang kami pikirkan, ia mulai menarik nafas dalam "aku ingat Tetchan pernah mengatakan ingin mencari bunga snowdrop padaku"
***
"Nee Yukkie... aku ingin mencari snowdrop.." ucap Tetsu pelan.
Yukkie menatap Tetsu dalam, "aku pikir bunga itu hanya mitos Tetchan" ucap Yukkie sembari memberikan hot chocolate pada Tetsu.
"Aku percaya bunga itu ada, aku harap jika aku mendapatkanya, harapanku akan terkabul" ucap Tetsu pelan sambil tersenyum getir.
"Memang kau mengharapkan apa Tetchan?" Ucap Yukkie menatap Tetsu dalam.
"Aku berharap... kita semua dapat bersama selamanya..." ucap Tetsu sambil tersenyum sedih, Yukkie merasakan ia dpaat melihat kilatan bening pada mata Tetsu.
***
Mataku menatap nanar pada Yukkie, aku dapat merasakan perasaan Tetsu, dan aku merasa sangat bersalah, aku merasakan betapa beratnya menjadi Tetsu, berusaha tersenyum manis disaat saat ia merasakan sakit yang dalam, iya aku tau, aku sangat kejam.
"Tapi... bunga snowdrop hanya akan tumbuh di udara bersalju.. dan Tokyo belum bersalju bulan ini.. satu satunya tempat yang bersalju.." ucap Ken pelan.
"Hokaido" ucapku dan Yukkie bersamaan.
"Hokaido kan luas..." seru Yukkie getir.
"Kau ingat pegunungan Tempat kita syuting dulu? Kalau tak salah salah satu kru mengatakan pada Tetsu bahwa di hutan dekat tempat kita syuting itu sering ditemukan bunga snowdrop?,' ucap Ken pada Yukkie.
"Tapi.. apakah Tetsu akan sebodoh dan senekat itu.. mencari bunga snowdrop disana?" Ucap Yukkie menatapku dan Ken.
"Tentu saja, tidak ada yang sebodoh dan senekat Tetchan" ucapku sambil tersenyum.
"Jadi apa yang kita tunggu? Mari kita jemput snowdrop kita" ucap Ken melangkahkan kakinya ke mobilnya, sementara aku dan Yukkie mengikutinya.
***
Kami menatap nanar di lobby hotel, beberapa saat yang lalu kita telah tiba di Hokaido, dadaku semakin bergemuru tak nyaman saat salah seorang pemandu mengatakan bahwa di pegunungan sedang ada badai salju.
Ken dan Yukkie saling menatap getir, diam diam kita semua berdoa agar Tetsu tidak nekat untuk menerobos badai salju itu.
Tiba tiba Yukkie berjalan kearah resepsionis, aku dan Ken memandang bingung, aku dapat melihat bahwa Yukkie sedikit berbincang dengan sang resepsionis, dan kemudian Resepsionis itu memberikan sebuah buku pada Yukkie, Yukkie membacanya perlahan, dan aku bersumpah melihat Yukkie membelalakan matanya.
Yukkie memberikan isyarat untukku dan Ken agar mendekat, ia menunjukan salah satu baris kata pada buku tersebut, mataku dan Ken mendadak sama bulatnya, kami menemukan nama TETSUYA OGAWA dalam list peminjaman mobil, dan ia baru saja meminjam mobil hotel ini, sekitar satu jam yang lalu.
Oke aku menarik kata kataku, Tetsu amat sangat nekat.
Dengan panik kami meminjam mobil dan menghiraukan perkataan petugas yang mengatakan bahwa sangat berbahaya jika ke gunung sekarang, di benak kami bertiga hanya ada Tetsu, semoga saja dia tidak bertindak bodoh untuk keluar dari mobil dan mencari bunga bodoh itu.
Udara semakin menusuk saat kami semakin jauh menuju gunung tersebut, aku dapat melihat Yukkie yang menyetir dengan sangat hati hati namun masih dalam kondisi panik, disebelahnya Ken menatap jendela dengan gusar, sama sepertiku, berharap kami menemukan Mobil Tetsu.
Tuhan kumohon.. jangan ambil Tetchan....
"Yukkie stopp" seru Ken perlahan, ia melihat sebuah mobil terpakir di salah satu jalan, mata Ken semakin awas saat melihat plat mobil tersebut.
"Sama.." desis Ken pelan.
Seketika detak jantungku semakin bertambah cepat, berarti Tetsu cukup bodoh untuk keluar sari mobilnya, Aku ken dan Yukkie sepakat untuk berpencar mencari Tetsu, aku berjalan serengah berlari memasuki pinggir hutan, berharap Tidak menemukan Tetsu, berharap dia sedang tertidur nyaman dikamar hotelnya.
Aku membeku saat mataku menabrak sesosok manusia yang tak bergerak berada di depanku, jantungku searasa berhenti berdetam saat melihat di tanganya ada dua tangkai bunga snowdrop.
"KENNN YUKKIEEE" teriakku sambil berlari menuju sosok yang tak bergerak di hapanku, Ken dan Yukkie yang mendengarnya berlari kearahku.
Aku berlutut pada sosok yang kini telungkup dan membalikanya perlahan, Ken dan Yukkie kini sudah berada di sisi kiri dan kananku, jantung kami serasa di pompa keluar melihat sosok orang yang kami sangat kenal tidak membuka matanya, aku dapat merasakn badanya sangat dingin dan wajahnya yang pucat serta bibirnya yang membiru.
Dengan sigap Yukkie memeriksa denyut nadi pada pergelangan tanganya "masih hidup, cepat bawa ke rumah sakit" ucap Yukkie berlari kearah mobil.
Ken yang sdari tadi hanya terpaku langsung bergerak cepat, menggendong Tetsu dan berlari menuju mobil, sementara akupun ikut berlari sekuat yang kubisa menuju mobil.
Yukkie membawa mobil dengan sangat cepat, wajahnya terlihat sangat kaku, sementara aku dan Ken membungkus Tetsu dengan semua baju hangat kami, Ken memberikan Tetsu alkohol agar badan Tetsu sedikit menghangat, dan usahanya berhasil! aku dapat melihat pipi Tetsu sedikit merona.
Sesampainya di rumah sakit, Yukkie memarkirkan mobilnya dengan asal, sementara Ken menggendong Tetsu menuju kearah lobby rumah sakit, aku mengikuti mereka dengan panik sembari membawa bunga snowdrop yang dipetik Tetsu.
Dokter dan suster disana bertindak cepat, memasukan Tetsu ke ranjang dorong dan membawanya ke ruang perawatan itensif, tak lama kemudian dokter keluar dari ruang perawatan.
"Hampir saja.. kalian kehilanganya, jika terlambat satu menit saja, dia tidak akan bisa bertahan dari hiportemia" ucap sang dokter pada kami.
Lututku serasa lemas, aku menjatuhkan diriku ke lantai, air mataku terus turun, hampir saja.. hampir saja aku kehilangan Tetsu...
***
Tak lama kemudian Ken Yukkie memasuki ruangan tersebut, aku hanya menatap dalam sebelum bergabung, Ken terlihat tidak tahan untuk menjitak Tetsu yang sudah tersadar.
"Kau ini.. kau tau tidak hamiur membuatku jantungan?!" Seru Ken sambil menjitak kepala Tetsu, yang dibalas cengiran khas Tetsu.
Aku dapat melihat Yukkie yang tertawa geli melihat tingkah Ken dam Tetsu, jelas sekali bahwa Yukkie juga terlihat lega.
Tiba tiba mata Tetsu terlihat sendu, ia seperti mencari cari sesuatu.
"Akh.. bunganya..."desah Tetsu kecewa.
Aku tersenyum pelan, ku berikan beberapa tangkai bunga Yang Tetsu cari pada pot yang baru saja aku beli. Tetsu menatap nanar padaku, kemudian tersenyum sangat manis, aku rasa pipiku memerah.
"Kumohon jangan lakukan hal bodoh lagi Tetsu, kau sangat berarti bagi kami" seruku pelan, " Tidak perlu mencari bunga bodoh ini segala..." lanjutku.
Tetsu tersenyum pelan, "Tapi harapanku terkabul loh" Seru Tetsu ceria "kita dapat berkumpul lagi dan saling tersenyum bahagia" lanjut Tetsu sambil memeluk vas yang diberikanku.
Pandanganku mendadak buram, aku kembali merasa bersalah pada Tetsu, tapi Tetsu mengenggam tanganku perlahan.
"Tidak.. ini bukan salahmu" seru Tetsu seakan tau apa yang aku pikirkan.
"Aku hanya merasa... aku tidak seperti kalian.. aku tidak ada perubahan.. namun kalian berkembang sangat hebat" ucap Tetsu sendu.
Aku Ken dan Yukkie saling bertatapan, kemudian tersenyum pelan.
"Kita berubah demi kau Tetchan" ucap Yukkie mengawali
"Kita harus semakin kuat dan hebat untuk tetap disisimu dan melindungimu leader chan" seru Ken menambahkan sambil tersenyum hingga matanya semakin terlihat sipit.
"Karna kau adalah harapan kami semua.. jadi kami harus melindunginya.. our snowdrop" ucapkku mengakhiri.
Aku dapat melihat rona merah pada pipi Tetsu "ka-kalian.. jangan mempermainkanku" seru Tetsu pelan sambil menutupi wajah merahnya.
"Uwaaa Tetchan memerah... manis sekali" seru Ken sedikit mempermainkan Tetsu...
"Kenchannnn jangan mempermainkankuuuu" seru Tetsu sambil melemparkan salah satu bantal pada Ken, Namun Ken menghindar dan terus menggoda Tetsu.
Sementara aku dan Yukkie hanya tersenyum melihat tingkah Tetsu yang semakin memerah saat Ken semakin menjahilinya.
"My snowdrop..." desahku pelan sambil menatap Tetsu yang menujukan wajah kesalnya.
"Aku menyayangimu..."
AAAHHH SWEEETT I LIKE IT!!! *luth
BalasHapus