Chapter 4
Tetsu meringkuk dalam sofa jok mobil Hyde, jaket yang dikenakan oleh Hyde pun menjadi selimut sementara untuk Tetsu.
Selama 5 hari ini Hyde terus datang ke rumah Tetsu, membawakanya bunga, coklat atau apapun yang Tetsu sukai. Kadang Tetsu bertanya dari mana Hyde tau semua makanan dan barang yang ia sukai.
Tetsu memegang tangan Hyde yang berada pada gigi mobil, matanya yang sudah berat tetap ia paksakan untuk membuka, seakan takut bahwa jika matanya tertutup Hyde akan lenyap.
Semalaman ini Hyde menemani Tetsu belanja, bahkan Hyde membelikan gitar yang sudah sangat lama diinginkan Tetsu, kemudian berjalan jalan sepanjang malam, menikmati tahun baru hanya berdua.
Tangan Hyde yang berada pada gigi Mobil sesekali mengelus kepala Tetsu lembut. Hyde sengaja memelankan jalan mobilnya, ia ingin lebih berlama lama dengan Tetsu, dan lagi agar Tetsu dapat tidur, melihat mata Tetsu yang sudah sayu itu.
***
Mobil Hyde berhenti di depan rumah Tetsu, menoleh pada jok sebelahnya, melihat Tetsu yang sudah terlelap tidur. Tersenyum melihat Tetsu yang tertidur Hyde mengelus pipi Tetsu.
"Hey..." ucap Hyde pelan mencoba membangunkan Tetsu.
Tetsu menggeliat sesaat, dan merancau entah apa, kemudian kembali tertidur lagi. Hyde tersenyum pelan melihat reaksi Tetsu, ia keluar dari mobilnya dan berjalan menuju mobil yang berada di seberang rumah Tetsu. Melihat kedua orang disana tertidur, alis Hyde berkedut. Dengan segera ditendangnya mobil itu hingga kedua orang yang terlelap terbangun.
"Ma-master" ucap salah satu dari mereka.
"Kalian, bawa mobilku dan jemput aku jam 5 pagi! Jika kalian telat 1 menit saja kalian akan menjadi makananku" ucap Hyde keras yang disambut anggukan dari kedua orang tersebut.
Hyde kemudian kembali ke mobilnya, diambilnya tas gitar dan beberapa belanjaan Tetsu dari mobilnya, memasukanya ke dalam rumah Tetsu, kemudian Hyde kembali lagi ke mobil, membuka pintu perlahan, ia mengangkat Tetsu dengan hati - hati, membenarkan jaket yang dijadikan Tetsu selimut dan berjalan menuju kamar Tetsu.
Dibaringkanya badan Tetsu ke ranjang miliknya, Hyde mengelus pipi Tetsu, kemudian membuka sepatu Tetsu perlahan, agar Tetsu tidak terbangun. Setelah itu Hyde membuka celana jeans Tetsu, membuatnya melihat paha putih dan mulus milik Tetsu, menegak air liurnya dengan susah, Hyde menyentuh lembut paha putih itu. Tetsu mengerang pelan dan membalikan badanya ke sisi lain, Hyde terkekeh pelan, menyelimuti tubuh itu, dan bergegas pergi.
"Jangan pergi!"
Hyde menoleh, melihat Tetsu memandangnya sambil mengucek matanya pelan, jelas sekali terlihat kalau Tetsu baru saja bangun. Tersenyum perlahan, Hyde membuka sepatu dan celananya, kemudian naik ke ranjang Tetsu.
Tetsu menyandarkan kepalanya pada leher Hyde, sementara Hyde merengkuh Tetsu dalam pelukannya, terkadang mengelus dan mengecup puncuk kepala Tetsu. Hening beberapa lama sampai akhirnya Tetsu kembali terlelap dalam tidurnya, sementara Hyde diam memandangi wajah Tetsu.
Wajah itu...
Senyum itu...
Menutup mata, sekarang Hyde ikut beristirahat sambil mendengar detak jantung Tetsu yang terus berdenyut.
***
Pukul 5 tepat Hyde keluar dari Rumah Tetsu, sebatang rokok ia nyalakan agar terlihat seperti 'manusia' , walaupun rokok adalah kebiasaan lama, para pesuruh Hyde sudah siap di depan rumah Tetsu.
"Bawa mobil itu, aku ingin berjalan" ucap Hyde datar kemudian melangkah pergi, "dan aku butuh beberapa informasi lagi" ucap Hyde sambil berlalu pergi.
Hyde berjalan menuju sebuah gubuk gelap di salah satu daerah kumuh pinggir kota, rokok yang di isapnya ia buang ke tanah dan di injaknya keras, memasuki salah satu rumah, Hyde membuka dengan kencang pintu itu. Terlihat siluet pria setengah baya berbadan tambun yang di rantai, badanya penuh luka seketika itu bergetar mendengar langkah kaki itu.
Menyeringai pelan Hyde menjambak rambut pria itu, memaksanya melihat kearahnya, "Jadi kau dapat merasakan penderitaan Tetchan sekarang?" Ucap Hyde sambil mengeluarkan taringnya.
"Ku-kumohon jangan bunuh aku" ucap laki laki itu parau.
"Sayang sekali, hari ini tiba waktunya" ucap Hyde kemudian menancapkan taringnya pada leher pria itu, menghisap seluruh darah pada pria itu sampai ia tak dapat bergerak lagi.
Hyde keluar dari gubuk kumuh itu sambil menyeka sisa darah pada bibirnya, menyalakan pematik api, ia melemparkanya pada gubuk itu hingga terbakar, kemudian melangkah pergi.
Hyde memasuki mobilnya yang sudah disiapkan itu, duduk di jok belakang, membiarkan kemudinya di ambil alih.
Melihat manusia manusia yang susah mulai berlalu lalang membuat Hyde menyeringai, mereka terlihat hanya seperti makanan berjalan. Namun anehnya tidak untuk Tetsu, ia melebihi segalanya untuk Hyde.
Jujur, selama hidupnya, Hyde tak pernah menjadikan satu manusia pun untuk menjadi Vampire, hanya Tetsuya, orang yang paling berharga untuknya yang ia akan jadikan Vampire, setidaknya Tetsu akan menjadi Vampire yang lebih terhormat dibanding para pesuruhnya.
Dan ia akan terus menanti sampai Tetchannya siap.
To be continued.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar