Chapter 1
Badannya yang kecil itu terus bergetar tak terkendali , mendengar suara langkah kaki yang semakin lama semakin mendekat, air matanya terus dan terus keluar seiring dengan suara langkah kaki yang semakin mendekat, matanya tertutup rapat tidak mau melihat apa yang terjadi
"Tetsu sayang" terdengar seorang pria berbicara dengan lembut serta seulas senyum yang menghampiri wajah laki laki itu.
"Kenapa kau lari?" ucap pria itu sambil mencengkram lembut tangan Tetsu. Tetsu hanya dapat mengeluarkan isakan pelan dari mulut mungilnya, takut. Ia sangat takut.
"M-maaf" hanya kata itu yang keluar dari mulut kecil Tetsu.
"Maaf katamu?" Ucap pria itu dengan suara yang meninggi, tongkat baseball di tanganya terangkat tinggi membuat Tetsu menangis sambil memejamkan matanya.
***
Tetsu membuka matanya perlahan, mimpi, ah.. potongan masa lalu menyeruak masuk kedalam memorinya. Membuat badannya bergetar tak terkendali.
Setelah menenangkan dirinya beberapa saat, ia mulai melakukan kegiatan sehari harinya, mandi - memasak - sarapan, serta menyiapkan barang barang yang akan dibawa hari ini.
Setelah mengunci pintu, Tetsu berjalan cepat menuju universitasnya, sebisa mungkin ia meniadakan kontak fisik dengan orang, terimakasih kepada ayahnya, bajingan keji yang membuat Tetsu tidak bisa bersosialisasi, terima kasih menjadikan masa kecilnya sangat menyedihkan.
Tetsu duduk di bangkunya, menanti gurunya yang sebentar lagi akan masuk, menyiapkan pelajaran, Tetsu memandang sekeliling, Tetsu merasa cukup beruntung bahwa temannya tidak terlalu sering melakukan kontak (terutama fisik) pada Tetsu, memang dia termasuk anak pendiam yang tidak memiliki banyak teman.
Pelajaran terasa sangat cepat, tidak terasa sudah menunjukan pukul 7 malam, waktu untuk semua mahasiswa pulang, banyak dari mereka yang bersorak gembira, tidak sabar untuk melakukan pesta, terlebih lagi ini malam natal
"Tetchan.." seru suara dari belakang Tetsu, menoleh kebelakang, ia melihat sesosok teman sekelasnya tersenyum dan mendekat padanya.
"Takanori kun, ada apa?" ucap Tetsu sembari tersenyum pada teman sekelasnya.
"Ano.. kau tau kan kalau ini malam natal, aku dan yang lainya berencana untuk mrnghabiskan makan malam di karokean kemudian kita akan ke bar apakah kau mau ikut?" Ucap Takanori riang
Tetsu berfikir sejenak, membayangkan bahwa ia akan mudah terkena kontak fisik membuatnya ngeri, memberikan wajah penyesalan ia menggelengkan kepalanya.
"Maaf, tapi aku harus pulang ke rumah" ucap Tetsu lembut yang dibalas dengan mulut 'manyun' Takanori.
"Ayolahhh Tetchan kau kan tidak pernah ikut, sekali sekali saja" ucap Takanori sedikit merajuk sambil menggenggam tangan Tetsu.
Mendadak Tetsu berubah pucat, matanya mengeluarkan air mata, lututnya lemas, ia jatuh terduduk, siluet masa lalunya tergambar jelas di matanya sekarang. Nafasnya berubah menjadi cepat dan tak beraturan.
Takanori yang sedari tadi melihatnya menjadi khawatir, mencoba membantu Tetsu berdiri, namun Tetsu menolaknya dengan halus.
"Maaf aku.. aku harus pulang" ucap Tetsu melangkahkan kakinya cepat tanpa mendengarkan seruan Takanori.
***
Tetsu menegak air mineral dengan cepat, ketegangan masih ada pada dirinya, ia takut, ia tak bisa, sama sekali tak bisa melakukan kontak fisik dengan orang lain. setiap orang lain menyentuhnya ia akan selalu teringat kejadian masa lalunya.
Memasak makan malam pikiran Tetsu tak tentu arah, entah kenapa memori memori sial itu kembali berputar tak tentu arah.
Ting tong
Tetsu mendelik mendengar bunyi bel rumahnya, melepas celemeknya ia bergegas menuju pintu rumahnya, membukanya perlahan.
Matanya dapat melihat sesosok pria tampan dengan sebuket bunga serta sebotol wine tersenyum padanya, senyuman yang dapat membuat jantung Tetsu berdetak lebih cepat dari biasanya.
To be continue
Tidak ada komentar:
Posting Komentar