"Halo ayah" seru Hyde dengan suara aga sedikit parau.
"Ya Hideto, ada apa? Apakah kau sudah menemukan calon pendamping yang tepat untukmu, atau kau tertarik dengan salah satu wanita dari rekan - rekan ayah?"seru sang ayah dengan suara yang lembut.
"Sebenarnya ayah...." seru Hyde semakin takut dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Sebenarnya ada apa Hideto?"tanya sang Ayah.
"Aku... aku menyukai seseorang.." seru Hyde pelan
Hyde dapat mendengar sang ayah tertawa, kemudian berbisik pada seseorang, samar samar Hyde dapat mendengarnya "ibu.. anak kita jatuh cinta.."
Dan Hyde bersumpah ia mendengar ibunya tertawa bahagia, dan mendengar gurauan "sebentar lagi kita punya cucu yah"
"Lalu Hideto bagaimana?"seru sang Ayah yang kembali menempelkan telepon pada telinganya.
"Aku... aku menghamilinya ayah.." seru Hyde seraya menutup matanya, ia takut membayangkan ayahnya murka.
"HEEEEEE?!!" Seru Ayah dan Ibu Hyde, mati sudah Hyde, ternyata ayahnya sengaja men- loudspeaker teleponya.
"Tapi... dia laki laki ayah..." seru Hyde semakin memejamkan matanya.
"APAAHH?!!" Sekarang Hyde dapat mendengar teriakan kedua orang tuanya yang mendadak histeris.
"Ba-bagaimana bisa Hideto?!" Tanya sang Ayah dengan suara parau, namun tiba tiba handphone milik ayah Hyde direbut paksa oleh sang ibu.
"KIRIMKAN FOTO ANAK ITU SEKARANG HIDETO, IBU TUNGGU" seru sang bunda sembari menekan tombol regect pada handphone sang ayah, membiarkan Hyde mengambil gambar mahluk yang sedari tadi menjadi objek percakapan mereka.
Hyde hanya bisa memandang bingung pada telepon yang mati, ia merasa memiliki kedua orang tua yang sedikit 'unik', dengan perlahan di tekanya aplikasi kamera, dan mengarahkan handphonenya kearah Tetsu yang sedang tertidur, dan klik, satu foto berhasil ditangkap oleh Hyde.
Dengan cekatan Hyde mengirimkan email kepada sang bunda yang menunggu nunggu foto tersebut, tidak sampai satu menit Handphone Hyde kembali berdering, dengan sedikit takut Hyde mengangkat teleponya.
"Hal-halo" seru Hyde canggung, dan mempersiapkan diri untuk cacian dan makian sang bunda.
"HIDETO YA AMPUNNN!! DIA MANIS SEKALI IBU SANGAT SENANGG AKHH IBU TIDAK TAU HARUS BILANG APA.. MENANTU IBU MANIS SEKALI DAN MENGANDUNG CUCU IB- ehh ayah jangan rebut Handphonya" seru sang bunda yang terputus dilanjutkan oleh sang ayah.
"Bagaimana dengan orang tuanya Hideto?" seru sang ayah
"mereka..." seru Hyde menatap Tetsu dengan tatapan sedih "sudah meninggal ayah...." ucap Hyde lirih.
Ayah Hyde terdiam sesaat kemudian mulai mengeluarkan suara pelan, "jadi... kapan kalian berencana menikah?"
"HEEE..." seru Hyde tak percaya pada apa yang didengarnya.
Hyde sempat mendengar suara gresekan dari handphonya, menandakan Handphone itu berpindah tangan dengan sekejap kemudian terdengar suara sang bunda sebgan raut wajah senang "jadi kapan dia akan kemari! Oh iya namanya siapa.. ah ibu senang sekali ibu akan segera mendapat cucu"seru ibunda Hyde.
"Namanya Tetsuya bu..." seru Hyde pelan, sedari tadi ada yang menganjal pikiran Hyde. "Ano ... kalian tidak marah? Aku berhubungan dengan laki laki" seru Hyde pelan.
"Tidak" seru kedua orang tuanya bersamaan, sepertinya handphone itu di loudspeaker lagi oleh sang bunda.
"Pokoknya ayah dan ibu menunggu kalian datang ke rumah ok? Kalau bisa secepat mungkin" seru sang ibunda terdengar ceria sekali.
"Ok..."
Sambungan pun terputus, Hyde kembali menatap Tetsu yang kini tengah menggeliat, dengan perlahan Hyde mendekatkan tubuhnya kearah Tetsu, menyaksikan Tetsu membuka matanya
"Enghh.. Haido san..? Apa yang terjadi? Ah?! Aku dimana?? seru Tetsu panik berusaha bangun, namun Hyde menahanya san memaksanya kembali untuk tiduran.
"Maafkan aku tetsu, aku tidak bermaksud lancang. Tadi kau jatuh pingsan karena kontraksi diperutmu tadi pagi. Bahkan sampai mengeluarkan darah, jadi terpaksa aku membawamu ke rumah sakit" kata hyde pelan, tidak ingin membuat Tetsu takut.
Mata Tetsu membulat seketika "lalu bagaimana haido san? Apa yang terjadi? Bayinya tidka meninggal kan? Dia dia masih hidup kan? Aku -aku tidak mau ditinggalkan lagi - " seru Tetsu menggantung seraya mencengkram kepalanya erat, terlihat butiran butiran air mata yang jatuh membasahi pipinya.
"Ssshhh tenang Tetchan, bayinya tidak apa apa dia sehat kok, kau hanya terlalu muda untuk mengandung, dengan kondisi seperti ini pula, maafkan aku... " seru Hyde merasa bersalah, ia merasa menjadi perusak hidup Tetsu.
"Benarkah itu.. Haido san.. ma-maafkan aku.. aku stress dan panik.. maafkan.. aku hampir membunuh bayi kita.." seru Tetsu melemah di akhir.
Grepp
Dengan perlahan Hyde mendekap Tetsu dengan hangat, Tetsu dapat merasakan hangatnya pelukan Hyde, diam diam Hyde menyunggingkan senyumnya merasakan tangan Tetsu melingkar di punggungnya, Hyde berjanji dalam hatinya ia akan selalu melindungi Tetsunya, karna ia mencintainya.
"Aku mencintaimu Tetchan.." seru Hyde sangat lirih, wajah Hyde ditenggelamkan pada bahu Tetsu "bolehkan aku memanggilmu Tetchan?" Lanjutnya.
Tetsu berdigik mendengar apaa yang dikatakan Hyde, namun akhirnya kedua pipinya muncul semu semu merah, ia merasa sangat senang mendengar perkataan Hyde.
"Tinggalah bersamaku Tetsu.." seru Hyde seraya melepaskan pelukanya pada Tetsu dan menatap Tetsu dalam
Tetsu menganggukan kepalanya beberapa kali, aku - aku mau Haido san..
Bersambung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar